Dari Desa Trusmi ke Borneo: Perjalanan Rones Triyono Membangun Arnesta Batik

Arnesta Batik Founder History

Dari Desa Trusmi ke Borneo: Perjalanan Rones Triyono Membangun Arnesta Batik

Author
olehAdmin Jangkar|27 Agustus 2026

Pada tahun 1974, di Desa Trusmi, Cirebon, lahirlah seorang anak bernama Rones Triyono.

Trusmi bukanlah desa biasa. Sejak lama, kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra batik paling penting di Cirebon. Batik bukan sekadar produk kerajinan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tradisi keluarga, dan roda perekonomian desa.

Di lingkungan seperti inilah Rones tumbuh.

Sejak usia dini, ia telah berada di tengah atmosfer kehidupan yang sangat dekat dengan batik. Bahkan pendidikan awalnya memiliki hubungan erat dengan lingkungan batik Trusmi.

Menjelang memasuki usia sekolah, Rones bersekolah di TK Batik Budi Tresna, yang berada di bawah Yayasan Koperasi Batik Budi Tresna yang berkantor pusat di desa Trusmi. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan dasarnya di SD Negeri Trusmi 1.

Tanpa disadari, lingkungan masa kecil tersebut kelak menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.


Tumbuh di Tengah Tradisi Batik

Bagi sebagian orang, batik mungkin pertama kali dikenal sebagai pakaian atau kain.

Namun bagi seseorang yang tumbuh di Trusmi, batik adalah sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ada proses panjang di balik selembar kain: menggambar, membuat pola, menorehkan malam, memberi warna, mengeringkan, hingga menjadi karya yang memiliki karakter.

Di lingkungan seperti inilah kecintaan terhadap batik tumbuh secara alami.

Rones kemudian melanjutkan perjalanan pendidikannya hingga menempuh pendidikan Teknik dan Manajemen Industri di Universitas Pasundan, Bandung.

Pilihan pendidikan tersebut kelak memberikan warna tersendiri dalam perjalanan bisnisnya.

Di satu sisi, ia memiliki kedekatan dengan seni dan tradisi batik.

Di sisi lain, ia mempelajari bagaimana sebuah proses produksi, manajemen, perencanaan, dan sistem industri dapat bekerja.

Perpaduan antara tradisi dan cara berpikir industri inilah yang kemudian menjadi salah satu karakter dalam perjalanan bisnis Rones.


Tahun 2001: Ketika dari Trusmi Membawanya ke Borneo

Tahun 2001 menjadi salah satu titik perubahan terbesar dalam kehidupan Rones.

Ia meninggalkan Cirebon dan kemudian menetap di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Bagi seseorang yang berasal dari Trusmi, perpindahan tersebut membawa sebuah pengalaman baru yang sangat berbeda.

Ia datang dari sebuah wilayah yang identitasnya sangat kuat dengan batik, menuju sebuah daerah yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang sama kuatnya, tetapi dengan karakter yang berbeda.

Pada awal kedatangannya, Rones mencoba membawa pengalaman yang telah dimilikinya dari Cirebon dengan menjual batik Cirebon.

Namun perjalanan tersebut tidak berjalan mudah.

Pasar setempat tidak serta-merta menerima produk tersebut. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia mencoba menjual batik Cirebon di kawasan Pasar Inpres Kebun Sayur. Produk tersebut mendapat penolakan karena dianggap bukan produk yang merepresentasikan Kalimantan.

Bagi seorang pengusaha, penolakan pasar tentu merupakan sebuah hambatan.

Namun bagi Rones, pengalaman tersebut justru membuka sebuah pertanyaan besar:

Jika masyarakat Kalimantan menginginkan batik yang mencerminkan daerahnya sendiri, seperti apa batik tersebut?


Dari Penolakan Menjadi Inspirasi

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi awal dari perjalanan baru.

Rones mulai melihat Kalimantan bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai sumber inspirasi.

Ia mulai memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

Hutan Borneo.

Flora.

Fauna.

Ornamen tradisional.

Budaya masyarakat.

Simbol-simbol daerah.

Dan berbagai kekayaan visual yang selama ini hidup di Kalimantan.

Salah satu pengalaman yang kemudian sangat membekas adalah ketika Rones melihat ornamen ukiran Dayak pada arsitektur Bandara Sepinggan Balikpapan.

Bentuk-bentuk tersebut membuka perspektif baru baginya.

Jika Cirebon mempunyai kekayaan motif yang lahir dari sejarah dan budaya masyarakatnya, maka Kalimantan juga memiliki kekayaan visual yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa batik.

Bukan membawa Cirebon ke Kalimantan, tetapi menemukan cara untuk menceritakan Kalimantan melalui batik.

Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan Arnesta.


Sebelum Arnesta Lahir, Ada Masa Perjuangan

Perjalanan menuju Arnesta tidak berlangsung dalam satu malam.

Setelah menghadapi kesulitan dalam memasarkan batik Cirebon, Rones sempat mencoba bidang usaha lain, termasuk bisnis frozen food.

Namun perjalanan tersebut juga tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Ketika usaha tersebut mengalami kendala, Rones kembali kepada dunia yang sebenarnya sudah sangat dekat dengannya sejak kecil:

batik.

Di sinilah pengalaman masa kecil di Trusmi, pendidikan, pengalaman usaha, dan lingkungan baru di Kalimantan mulai bertemu.

Rones tidak lagi hanya melihat batik sebagai komoditas.

Ia mulai melihat batik sebagai media untuk menceritakan identitas sebuah daerah.


2004: Lahirnya Arnesta Batik

Setelah melalui berbagai pengalaman tersebut, pada 2004 Rones mulai membangun Arnesta Batik akan tetapi perjalanannya masih sangat konvensional, legalitas usaha dan merek belum didaftarkannya. Rones masih fokus untuk membangun bisnis frozen foodnya hingga tahun 2014.

Arnesta lahir dari sebuah gagasan sederhana tetapi memiliki makna yang dalam:

mengangkat kekayaan daerah melalui batik.

Nama Arnesta sendiri memiliki kisah keluarga. Dalam profil Arnesta, nama tersebut berasal dari nama belakang kedua putri Rones dan merupakan gabungan dari nama Rones dan Erlyta.

Dengan demikian, Arnesta sejak awal bukan hanya sebuah nama bisnis.

Di dalamnya terdapat unsur keluarga, perjalanan hidup, dan kecintaan terhadap batik.


Dari Cirebon ke Kalimantan: Sebuah Perjalanan Identitas

Jika dilihat dari perjalanan hidupnya, Rones sebenarnya membawa dua dunia ketika datang ke Kalimantan.

Dunia pertama adalah Cirebon, tempat ia dilahirkan dan mengenal batik.

Dunia kedua adalah Kalimantan, tempat ia menemukan inspirasi baru dan membangun identitas bisnisnya.

Dua dunia tersebut tidak saling menggantikan.

Keduanya justru bertemu.

Tradisi batik Cirebon memberikan fondasi.

Kalimantan memberikan inspirasi.

Pendidikan industri memberikan cara berpikir.

Pengalaman hidup memberikan keberanian.

Dan dari perpaduan itulah Arnesta berkembang.


Dari Kain Menjadi Identitas

Pada tahun-tahun berikutnya, Arnesta tidak berhenti pada produksi kain batik.

Rones mulai mengembangkan berbagai motif yang mengambil inspirasi dari kekayaan Kalimantan dan Balikpapan.

Berbagai unsur alam dan kehidupan daerah diterjemahkan ke dalam motif.

Batik kemudian berkembang menjadi pakaian jadi, busana, seragam, hingga berbagai kebutuhan korporasi.

Salah satu tonggak penting terjadi pada 2010, ketika karya desain motif Rones menjadi salah satu pemenang dalam lomba desain motif batik yang diselenggarakan Pemerintah Kota Balikpapan.

Pada periode yang sama, produksi yang sebelumnya masih banyak dilakukan di Cirebon mulai dikembangkan sendiri di Balikpapan.

Dari sebuah rumah produksi sederhana, perjalanan Arnesta kemudian berkembang menuju workshop dan jaringan produksi yang melibatkan masyarakat lokal.


Lebih dari Sekadar Bisnis Batik

Perjalanan Arnesta juga tidak hanya tentang menjual kain.

Sejak perkembangannya di Balikpapan, Arnesta mulai melibatkan pembatik dan penjahit lokal.

Masyarakat bukan hanya menjadi bagian dari rantai produksi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan brand.

Batik menjadi titik temu antara tradisi, kreativitas, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.

Inilah yang membuat perjalanan Arnesta berbeda.

Arnesta tidak lahir dari sebuah konsep branding yang dibuat di atas meja.

Ia tumbuh melalui perjalanan nyata seorang manusia:

seorang anak Trusmi,

seorang perantau,

seorang pengusaha,

seorang pencipta motif,

dan kemudian

seorang pembawa cerita Kalimantan melalui batik.


Dari Trusmi untuk Borneo

Hari ini, ketika kita melihat sebuah kain Arnesta dengan motif yang terinspirasi dari hutan, flora, fauna, budaya, maupun kehidupan Kalimantan, sesungguhnya ada perjalanan panjang di baliknya.

Perjalanan itu dimulai jauh sebelum nama Arnesta dikenal.

Dimulai pada sebuah desa bernama Trusmi.

Di sana, seorang anak bernama Rones tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan batik.

Puluhan tahun kemudian, anak tersebut membawa warisan itu pergi jauh dari tanah kelahirannya.

Ia membawanya ke Borneo.

Namun ia tidak sekadar membawa batik Cirebon.

Ia menemukan bahasa baru.

Bahasa yang berbicara tentang Kalimantan.

Tentang hutan.

Tentang budaya.

Tentang alam.

Tentang manusia.

Dan tentang sebuah perjalanan seorang perantau yang akhirnya menemukan rumah keduanya.


Warisan yang Terus Berjalan

Arnesta Batik hari ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang tersebut.

Lebih dari satu dekade telah berlalu sejak Arnesta mulai fokus dibangun pada 2014.

Namun satu hal tidak berubah:

keyakinan bahwa batik bukan hanya kain.

Batik adalah cerita.

Batik adalah identitas.

Batik adalah warisan.

Dan ketika sebuah motif lahir dari tempat, budaya, alam, dan pengalaman manusia yang nyata, maka selembar kain dapat membawa sebuah cerita jauh melampaui batas daerah dan negara.

Dari Trusmi, Cirebon, perjalanan itu dimulai.

Di Borneo, cerita itu menemukan identitas baru.

Dan melalui Arnesta Batik, perjalanan tersebut terus ditulis—selembar kain demi selembar kain.

Arnesta Batik

From Heritage to Identity.

Born from the heritage of Cirebon.
Inspired by the soul of Borneo.

Tags:
Bagikan:

Sebelumnya

-

Berikutnya

-